PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN NILA SKALA RUMAH TANGGA

No: 011-Blg/BS/2503/2022.

PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN NILA  SKALA RUMAH TANGGA
Oleh: Aldino Gibran Lubis, S.Pi

Tanggal: 25 Maret  2022.



PENDAHULUAN

Ikan nila memiliki keunggulan lain beberapa diantaranya: Ikan nila memiliki pertumbuhan yang cepat dan pesat menyebabkan waktu panen yang lebih cepat. Ikan nila dapat dibudidayakan di berbagai media antara lain bisa menggunakan kolam, jaring apung, karamba, di sawah dan masih banyak lainnya dan dapat hidup di kondisi yang kepadatannya tinggi, tahan terhadap penyakit. Ikan nila merah respon terhadap pakan buatan. Ikan nila termasuk ikan pemakan segala, dapat berkembang biak dengan pemberian berbagai macam makanan termasuk limbah rumah tangga dan ini dapat menghemat biaya perawatan dan pemeliharaan. Ikan nila dapat berkembang biak secara alami dan investasi usahanyapun relatif murah dibanding ikan lainnya.

 

 

TEKNIS BUDIDAYA IKAN NILA

 

Lokasi yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

  1. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  2. Lokasi merupakan dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).

 

KUALITAS AIR

Persyaratan kualitas air untuk pembesaran ikan nila antara lain :

  1. pH air antara 6,5-8,6
  2. Suhu air berkisar 25-30oC.
  3. Oksigen terlarut (DO)>5 mg/l (ppm) dan kandungan moniak (NH3)
  4. Kualitas air harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk pertumbuhan ikan.
  5. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan. Untuk di kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.


Wadah Budidaya Kolam pembesaran berfungsi sebagai tempat untuk memelihara dan membesarkan benih selepas dari kolam pendederan. Adakalanya dalam pemeliharaan ini diperlukan beberapa kolam pembesaran, yaitu:

  1. Kolam pembesaran tahap I berfungsi untuk memelihara benih ikan selepas dari kolam pendederan. Kolam ini sebaiknya berjumlah antara 2-4 buah dengan luas maksimum 250-500 meter persegi/kolam. Pembesaran tahap I ini tidak dianjurkan memakai kolam semen, sebab benih ukuran ini memerlukan ruang yang luas. Setelah benih menjadi gelondongan kecil maka benih memasuki pembesaran tahap kedua atau langsung dijual kepada para pembudidaya ikan.
  2. Kolam pembesaran tahap II berfungsi untuk memelihara benih gelondongan besar. Kolam dapat berupa kolam tanah atau sawah. Keramba apung juga dapat digunakan dengan mata jaring 1,25–1,5 cm. Jumlah penebaran pembesaran tahap II sebaiknya tidak lebih dari 10 ekor/meter persegi.
  3. Pembesaran tahap III berfungsi untuk membesarkan benih. Diperlukan kolam tanah antara 80-100 cm dengan luas 500-2.000 m 2 .
  4. Kolam/tempat pemberokan.

 
 
Selain media kolam ikan, nila juga dapat dibudidayakan pada wadah Keramba Jaring Apung (KJA). Wadah yang dipergunakan untuk budidaya pembesaran pada Karamba Jaring Apung (KJA) adalah 4x4x3 m3. Spesifikasi KJA adalah pelampung terbuat dari bahan styrofoam atau drum, bentuk silindris dan jumlah pelampung minimal 8 buah/jaring.
Pembesaran ikan nila dapat pula dilakukan di jaring apung, berupa hapa berukuran 1×2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75-100 cm. Ukuran hapa dapat disesuaikan dengan kedalaman kolam. Selain itu sawah yang sedang diberokan dapat dipergunakan pula untuk pemijahan dan pemeliharaan benih ikan nila. Sebelum digunakan petak sawah diperdalam dahulu agar dapat menampung air sedalam 50-60 cm, dibuat parit selebar 1- 1,5 m dengan kedalaman 60-75 cm.
Lalu tali jangkar terbuat dari bahan polyetiline (PE), panjang 1,5 kali kedalaman perairan, jumlah 5 utas/jaring diameter 0,75 inchi. Jangkar terbuat dari bahan besi/balok beton/batu, bentuk segiempat, berat min 40 kg/buah dan jumlah 5 buah/jaring. Sementara jaring terbuat dari bahan polyetiline (PE 210 D/12), ukuran mata jaring 1 inchi, ukuran jaring 7x7x2,5 m 3 .
Luas peruntukan areal pemasangan jaring maksimal 10% dari luas potensi perairan atau 1% dari luas perairan waktu surut terendah. Jumlah luas jaring maksimal 10% dari luas areal peruntukan pemasangan jaring.

 

PROSES PRODUKSI

  • Persiapan lahan Yang dimaksud dengan persiapan adalah melakukan penyiapan media untuk pemeliharaan ikan, terutama mengenai pengeringan dan pemupukan. Dalam menyiapkan media pemeliharaan ini, yang perlu dilakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari, lalu dilakukan pengapuran untuk memberantas hama dan ikan-ikan liar sebanyak 25-200 gram/m 2 , diberi pemupukan berupa pupuk buatan, yaitu urea dan TSP masing-masing dengan dosis 50-700 gram/m 2 , bisa juga ditambahkan pupuk buatan yang berupa urea dan TSP masing-masing dengan dosis 15 gram dan 10 gram/m 2.
  • Proses pemeliharaan - Lama pemeliharaan adalah 4 bulan dengan tingkat kelangsungan hidup (SR) 80 %. - Pakan yang diberikan berupa pellet apung dengn dosis 3-4% dari biomassa ikan. - Frekuensi pemberian pakan 2-3 kali sehari dengan rasi konversi pakan (FCR) 1,2.
  • Proses Panen Ukuran panen nila adalah 500 gr/ ekor. Panen dilakukan pada pagi hari untuk mengurani resiko kematian dari ikan yang dipelihara. Perlu diperhatikan agar ikan sampai ke konsumen dalam keadaan hidup dan segar, hendaknya dalam pengangkutan gunakan air yang bersuhu rendah sekitar 200C. Waktu pengangkutan sebaiknya pada pagi hari atau sore hari. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.

 

 

INFORMASI SELENGKAPNYA BISA MENGHUBUNGI :

ALDINO GIBRAN LUBIS, S.Pi
Penyuluh Perikanan Muda
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kota Binjai
Email : Dinogibran@gmail.com
HP / WA : 081361976655

 

Komentar